Articles

MELIRIK SAFETY DI INDUSTRI NON-PENERBANGAN, KITA MUSTI TETAP WASPADA!

30 Jan, 2018

Dear sahabats ISAFE… bicara tentang aspek Safety tentu saja bukanlah konsumsi industry penerbangan, atau perhubungan saja. Sungguh banyak pihak dari banyak industri mengalokasikan waktunya untuk hal yang penting ini. Kali ini kita akan membahas bagaimana aspek safety dikelola di industri non penerbangan.

Mari kita mulai dengan melihat beberapa kutipan pemberitaan tentang kecelakaan kerja:

 

·         ILO mencatat, setiap hari terjadi kecelakaan kerja yang meng-akibatkan korban fatal sekitar 6.000 kasus di seluruh dunia, sementara di Indonesia dari setiap 100.000 tenaga kerja terdapat 20 orang menderita kecelakaan kerja fatal setiap hari. (http://kemnaker.go.id)

 

·         Secara nasional, angka kecelakaan kerja sektor konstruksi versi BPJS Ketenagakerjaan, selalu bertengger di angka 32 persen, bersaing ketat dengan industri manufaktur yang juga selalu bertengger di kisaran angka 31 persen. Merujuk data BPJS Ketenagakerjaan, kasus kecelakaan kerja yang terjadi pada 2016 (hingga November) tercatat 101.367 kejadian dengan korban meninggal dunia 2.382 orang, sedangkan pada 2015 tercatat 110.285 dengan korban meninggal dunia 2.375 orang. (www.prodev-consulting.com)

 

·         Sebuah prosiding dari Konferensi Nasional Teknik Sipil menuliskan laporan yang mengidentifikasi tiga tipe kecelakaan kerja yang dominan, yaitu 78 kasus kecelakaan tersengat listrik, 59 kasus tertimpa benda, dan 51 kasus terjatuh dari ketinggian. Dari hasil analisa juga ditemukan bahwa sumber penyebab utama kecelakaan adalah ketidak hati-hatian, konstruksi tidak aman, dan tidak menggunakan APD. (www.researchgate.net)

 

·         Kecelakaan kerja yang terjadi di gudang kembang api yang berlokasi di Kabupaten Tangerang, Banten yang mempekerjakan 103 pekerja, dan ditemukan 47 korban meninggal serta 43 luka-luka, diduga kuat perusahaan tersebut tidak memiliki Sistem Menejemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sebagaimana yang telah ditentukan oleh pemerintah. (http://kemnaker.go.id)

 

·         Penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja adalah masih rendahnya kesadaran akan pentingnya penerapan K3 di kalangan industri dan masyarakat. Selama ini penerapan K3 seringkali dianggap sebagai cost atau beban biaya, bukan sebagai investasi untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. (http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id)

 

·         Total jumlah kecelakaan kerja siap tahunnya mengalami peningkatan hingga 5%. "Namun untuk kecelakaan kerja berat tren peningkatannya cukup lumayan besar yakni sekitar 5%-10% setiap tahunnya," (www.bpjsketenagakerjaan.go.id)

 

·         Kecelakaan kerja bisa dicegah, apabila semua pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi mulai dari level tertinggi yaitu pimpinan hingga level terbawah seperti tenaga kasar, memperhatikan dan mengedepankan aspek K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) dalam setiap tahapan pekerjaan konstruksi yang dilakukannya. Pertanyaannya, apakah semua pihak sudah mengedepankan K3? Belum. K3 masih dipandang sebagai tanggungjawabnya petugas K3, yang di lapangan mengenakan baju merah. (http://isafetymagz.com)

 

·         Peringatan bulan K3 kali ini memang mengambil tema "Penerapan K3 Syarat Utama Hubungan Industrial Yang Berkeadilan Dan Berdaya Saing". Adapun tagline yang diusung "Stop Kecelakaan Kerja" (www.bpjsketenagakerjaan.go.id)

 

Hal yang dapat kita simpulkan dari fenomena di atas, bahwa kejadian kecelakaan kerja selalu saja terjadi seiring dengan segala macam bentuk upaya manajemen keselamatan. Apakah itu bermakna bahwa segala pola pengelolaan safety tidak memberi dampak, atau jumlah aktifitas kerja yang rentan kecelakaan memang bertambah dari waktu ke waktu? Hmmm… ini menarik, tapi bicara aspek safety memang tidak sesederhana itu. Dalam sebuah artikel berjudul: THE ACCIDENT CYCLE: WHY WORKPLACE INCIDENTS PERSIST (Siklus kecelakaan, mengapa kecelakaan kerja selalu terjadi - https://www.predictivesafety.com/blog/the-accident-cycle-why-workplace-incidents-persist ), penulisnya, David Lauriski mengungkapkan adanya 3 miskonsepsi, yaitu:

·         tidak terjadinya insiden berarti bisnis telah berkinerja aman (AN ABSENCE OF INCIDENTS NECESSARILY INDICATES SAFE PERFORMANCE). Menurut beliau, ini adalah ciri reactive safety system dimana para supervisor dan pimpinan telah terkecoh dan salah memahami maknanya dan bahkan menggunakan informasi tersebut secara tidak tepat.

·         Bila kita memenuhi atau patuh atas ketentuan regulasi maka yakin bisnis akan berkinerja aman (REGULATORY COMPLIANCE NECESSARILY ENSURES SAFE PERFORMANCE). Pada reactive safety system memang terbiasa menggunakan pengukuran kepatuhan peraturan sebagai indikator keselamatan. Regulasi hanyalah menetapkan standar minimum sebagai pola menjalankan bisnis agar berjalan aman, namun langkah mematuhi peraturan ini tidak membantu mengidentifikasi keberadaan defisiensi (kekurangan) atas aspek keselamatan, termasuk tidak juga menunjukkan peraturan mana yang telah memberi capaian kontribusi kinerja aspek safety.

·         Pada jangka tertentu, kita masih dapat mentolerir bakal ada dan terjadi sejumlah insiden sepanjang masih dibawah batas maksimum (IN A GIVEN TIME FRAME, A NUMBER OF ACCIDENTS BELOW A CERTAIN MAXIMUM SHOULD BE EXPECTED TO OCCUR.) Salah satu isu pokok siklus kecelakaan (insiden yg berulang) adalah adanya "perceived acceptability" yaitu mentolerir tingkat insiden asal tidak menembus batas atas tingkat insiden perusahaan. Namun pemikiran ini akan menghambat upaya penegakan peraturan dan pola Reactive Safety System untuk menekan tingkat insiden pada angka nol, meskipun pada kenyataan penerapan peraturan dapat berdampak pada pengurangan tingkat insiden.

 

Nah, paling tidak dalam salah satu sudut pandang kita mengetahui bahwa miskonsepsi di atas memang sedikit banyak mewarnai fenomena terjadinya insiden yang berulang. Memperbaiki miskonsepsi ini, tentu saja akan menjadi penguat dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang aman, dan tidak menjadi sarang produksi terjadinya insiden demi insiden. Lalu apa saja yang telah dilakukan di industri non penerbangan ini dalam memastikan tercapainya target safety?

 

Yuk kita lihat sebuah laporan dari McGrow Hill Construction, sebuah Lembaga yang membantu professional dibidang konstruksi. Dalam laporannya diungkapkan hal sbb: “ While contractors have the most direct impact on the adoption of safety management practices, increasing project safety does not benefit them alone. The industry as a whole would benefit by being able to attract talent if it had a better safety reputation, and project owners would benefit from projects with less insurance liability, shorter schedules and improved budgets.” Wow, ternyata semua pihak, yakni Kontraktor, industri dan juga pemilik proyek sama-sama mendapat manfaat dari penerapan program pengelolaan safety yang baik. Lalu pendekatan seperti apa sih yang “mereka” lakukan untuk menikmati manfaat-manfaat tersebut? Berikut ini 8 aspek penting sebagai upaya strategis yang mereka lakukan:

1.       Demonstrating management commitment: tunjukkan bahwa manajemen komit dlm urusan safety. Contoh: Safety is a top agenda item at all meetings

2.       Aligning and integrating safety as a value: selaraskan dan integrasikan aspek safety sbg sebuah nilai. Contoh: Employees at all levels are recognized for participation in safety activities

3.       Ensuring accountability at all levels: harus ada kejelasan akuntabilitas setiap level (pimpinan, manajer, supervisor dan pelaksana). Contoh: All members of project team are responsible for safety activities

4.       Improving site safety leadership: selalu tingkatkan safety leadership di lokasi kerja. Contoh: Supervisors lead by example

5.       Empowering and involving workers: berdayakan dan libatkan karyawan. Contoh: Workers are involved in job hazard analyses

6.       Improving communication: pastikan pola komunikasi berlangsung secara efektif. Contoh: Supervisors and management provide timely feedback on safety reports

7.       Training at all levels: pastikan semua elemen kompeten dalam urusannya. Contoh: All field personnel help to identify training needs, and develop materials

8.       Encouraging owner/client involvement: ajak dan libatkan stakeholder (pemilik proyek). Owners regularly come on-site to connect with and learn from employees.

(Sumber:  https://www.cpwr.com/sites/default/files/CPWR%20Activity%20Sheets%20Booklet%20081514.pdf)

 

 

Memperhatikan apa-apa yang telah diupayakan di industri non penerbangan, kita sampai pada kesimpulan sederhana bahwa aspek safety dan segala yang mempengaruhi capaiannya harus menjadi perhatian semua pihak yang ada, mulai dari level atas sampai pada pelaksana, dan juga pihak luar lain yang berkaitan dengan urusan bisnis yang dijalankan. Kita tahu bahwa sistem safety pada industri penerbangan jauh lebih baik, bahkan pemberitaan Reuters Selasa 2 Jan 2018 melansir berita berikut "Tahun 2017 merupakan tahun teraman bagi penerbangan sepanjang sejarah,". Fakta ini tentu tidak boleh menjadikan kita merasa aman, karena selama aktifitas penerbangan masih berlangsung maka selama itu pula safety risk akan selalu ada. Kewaspadaan akan potensi ini, yang dipahami oleh setiap insan penerbangan diikuti dengan praktek-praktek manajemen keselamatan yang efektif serta kultur keselamatan yang semakin bertambah matang, maka itulah yang dapat membantu kita berharap mendapatkan tingkat keselamatan penerbangan yang tetap terjaga secara berkelanjutan. GodWilling…aamiin.

comments powered by Disqus

Articles

Rekrutmen PKWT Tenaga Programmer
23 Apr 2018

Rekrutmen PKWT Tenaga Programmer

Rekrutmen PKWT Tenaga Programmer
Read More

AirNav Terima Sertifikat CASR 172 AFIS Untuk 28 Cabang
05 Apr 2018

AirNav Terima Sertifikat CASR 172 AFIS Untuk 28 Ca...

TANGERANG – Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau yang lebih dikenal AirNav Indonesia menerima sertifikat Civil Aviation Safety Regulation (CASR) 172 tentang Air Traffic Service Providers untuk 28 Cabang AirNav Indonesia yang masuk ke dalam kategori Aerodrome Flight Information Services (AFIS) dari Kementerian Perhubungan.
Read More

Direksi AirNav Indonesia Motivasi Pelajar Kota Manggis
23 Mar 2018

Direksi AirNav Indonesia Motivasi Pelajar Kota Man...

PATI – Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penebangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia menginspirasi generasi muda di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, melalui kegiatan AirNav Indonesia Mengajar yang digelar di SMP Negeri 3 Pati
Read More

SAFETY INSPECTOR, SIAPA MEREKA?
09 Mar 2018

SAFETY INSPECTOR, SIAPA MEREKA?

SAFETY INSPECTOR, SIAPA MEREKA?
Read More

News

Optimalisasi Ruang Udara, AirNav Indonesia dan Kementerian Perhubungan Selenggarakan CMAC/FUA Workshop
31 Mar 2016

Optimalisasi Ruang Udara, AirNav Indonesia dan Kem...

Jakarta, 31 Maret 2016 – Kerjasama sipil-milter merupakan hal penting untuk mengoptimalkan penggunaan ruang udara Republik Indonesia dalam mendukung peningkatan konektivitas di negeri yang memiliki lebih dari 17.000 pulau ini.
Read More

Donor Darah Dan Peluncuran Mobil Perpustakaan Keliling Airnav Peduli
11 Feb 2016

Donor Darah Dan Peluncuran Mobil Perpustakaan Keli...

TANGERANG (2/10) - Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia menggelar Aksi Donor Darah dan Peluncuran Mobil Perpustakaan Keliling ”AirNav Peduli”, Rabu, 10 Februari 2016
Read More

AirNav Indonesia Bersama TNI AU Resmikan Tower Baru  di Bandara Husein Sastranegara
10 Feb 2016

AirNav Indonesia Bersama TNI AU Resmikan Tower Bar...

BANDUNG - Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Pen-erbangan Indonesia (LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia bersinergi dengan TNI Angkatan Udara meresmikan pengoperasian tower baru, demi memaksimalkan pelayanan pengaturan lalu lintas penerbangan berniaga dan penerbangan militer di Bandara Husein Sastrangera, Bandung pada hari Rabu 10 Februari 2016
Read More

9 Pejabat MATSC Menandatangani Pakta Integritas, Siap Meningkatkan Pelayanan Navigasi di Indonesia
26 Feb 2016

9 Pejabat MATSC Menandatangani Pakta Integritas, S...

Makassar – Sebanyak 9 Manager dan Junior Manager di AirNav Indonesia Cabang MATSC menandatangani pakta integritas. Penandatanganan para managerial dilakukan di ruangan Platinum, Kantor Cabang MATSC, Jl. Bandara Baru, Selasa (16/2)
Read More