Articles

SAFETY INSPECTOR, SIAPA MEREKA?

09 Mar, 2018

 

 

 

Sahabat Isafe, kita mengerti bahwa setiap individu yang berprofesi di industri penerbangan wajib memastikan dirinya memahami secara baik peran dan tanggung jawab yang bersangkutan dalam hubungannya dengan keselamatan penerbangan, mulai dari pimpinan puncak sampai dengan petugas lapangan, termasuk pihak-pihak lain yang berkepentingan, needless to say the safety inspector. Kali ini kita akan membahas siapa dan mengapa ada profesi bernama Safety inspector, lalu kemampuan kerja seperti apa yang harus dimiliki mereka?

Dalam rangka menjamin upaya mencapai tujuan keselamatan dalam penerbangan sipil international, ICAO menerbitkan dokumen-dokumen khusus seperti ANNEX 19 tentang Safety Management dan Doc. 9859 Safety Management Manual, yang menjelaskan secara rinci peraturan, ketentuan dan rekomendasi serta bentuk-bentuk praktik yang diperlukan oleh masing-masing negara anggotanya untuk mencapai tujuan tersebut. Didalam dokumen tsb, ICAO misalnya menetapkan State Safety Programme, yaitu: suatu rangkaian regulasi dan aktifitas terintegrasi yang dimaksudkan untuk mencapai peningkatan aspek safety. Ia merupakan suatu sistem manajemen dalam penata kelolaan safety yang dijalankan negara anggota yang diwujudkan dalam tiga aktifitas pokok, yaitu:

·                Safety rule-making, mengacu pada analisa komprehensif atas State’s aviation system

·                Safety policy development, dibuat berdasarkan identifikasi hazard dan safety risk management

·                Safety oversight, difokuskan pada area significant safety concerns dan higher safety risks.

Nah, dalam menjalankan semua proses tersebut terdapat 8 aspek yang mendapat perhatian lebih, yaitu: Primary aviation legislation; Specific operating regulations; State civil aviation system and safety oversight functions; Technical personnel qualification and training; Technical guidance, tools and the provision of safety-critical information; Licensing, certification, authorization and approval obligations; Surveillance obligations; dan Resolution of safety concerns.

Ini adalah pekerjaan super serius, karenanya ICAO dalam Global Aviation Safety Plan menargetkan penerapan secara penuh harus terjadi di seluruh negara anggota ICAO pada 2022 mendatang, tentu saja termasuk Indonesia. Orientasi programnya adalah Prescriptive regulations dimana Regulations berperan sebagai kendali administratif dan Performance-based regulations dimana Regulations berperan sebagai safety risk controls. Key success factor-nya apa? Jelas diantaranya ditentukan oleh sumber daya pelaksananya.

Siapa sih yang menjadi aktor kunci dalam urusan ini, dan apa yang wajib mereka kuasai untuk sukses menjalankan peran penting ini?

Safety inspector…. Ya, kekuatan suatu pengelolaan aspek safety diantaranya ditentukan oleh sebaik apa safety inspector-nya. Dari waktu ke waktu, diluar dari keterampilan teknis yang selama ini dimiliki para safety inspector, professional dibidang ini ternyata tetap harus memiliki keterampilan yang terjaga baik. Mereka memerlukan kemampuan agar terus dapat memahami kondisi profil risiko aspek keselamatan suatu organisasi secara lebih luas, mereka harus semakin mampu mengarahkan fokus seluruh perangkat pengawasannya pada kemampuan perusahaan dalam pengelolaan safety, termasuk memahami bagaimana para organisasi service provider ini melaksanakan tanggung jawab atau akuntabilitas aspek safety.

Dalam menjalankan tugasnya, safety inspector juga perlu memperhatikan struktur suatu aktifitas penyelenggara pelayanan. Tidak kalah pentingnya mereka juga harus mengerti bagaimana hubungan organisasi dengan urusan-urusan perusahaan yang didelegasikan ke pihak lain, juga bagaimana risiko yang ada telah dimitigasi secara baik. Para safety inspector harus mampu mempertanyakan kehandalan dan kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko yang ada, termasuk proses safety assurance. Dan akhirnya, profesi penting ini harus mampu menetapkan bahwa sebuah organisasi dinyatakan secara efektif telah memenuhi regulasi yang dipersyaratkan. Kesemua kemampuan tsb terkumpul dalam sebutan safety competence.

Apa sih safety competence itu? Dan bentuk kompetensi seperti apa yang perlu dimiliki seorang safety inspector dalam menjalankan tugasnya?

Biasanya, Seorang safety inspector adalah petugas dilingkungan pemerintah yang bertanggung jawab memeriksa organisasi, pabrik, mesin, peralatan, tempat kerja, kondisi kerja dan kesehatan serta utilitas umum untuk memastikan penerapan peraturan pemerintah dan ketentuan serta standar industri lainnya dalam rangka pencapaian aspek keselamatan. Pada organisasi yang lebih besar biasanya mereka juga menentapkan untuk memiliki safety inspector sendiri untuk pengelolaan aspek keselamatan di seluruh wilayah kerja perusahaan.

Dalam rangka menjalankan peran super penting tersebut, safety inspector perlu memiliki kecukupan kompetensi berupa gabungan dari dari unsur pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang relevan, yang merupakan unjuk kemampuan atas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya pada lingkup safety dalam rangka memungkinkan ybs melakukan rangkaian proses guna mencapai hasil kerja, tentunya hasil kerja ini secara positif memberi kontribusi atas kinerja safety secara keseluruhan yang ditargetkan oleh negara yang bersangkutan.

Ada banyak hal yang wajib dikuasai oleh seorang safety inspector. Kesemuanya juga bukanlah pengetahuan dan keterampilan yang sederhana, akan tetapi penguasaan spesialisasi yang perlu proses pembelajaran, penguatan, dan pengayaan mendalam agar ia benar-benar berdampak pada objek yang menjadi fokus perhatian, yaitu kinerja safety. EASA** mengidentifikasi empat aspek penting yang menjadi ciri safety inspector yang kompeten, yaitu ybs memiliki kapasitas untuk menetapkan apakah sebuah organisasi telah memenuhi persyaratan regulasi; juga memahami segala hal terkait dengan aspek teknis yang diawasi; dalam kesehariannya menerapkan interpersonal skill yang diperlukan; dan mampu mengikuti urusan mengawasan aspek safety ini dalam konteks yang lebih kompleks.

Ternyata menjadi safety inspector memang tidak gampang. EASA menetapkan adanya sebelas kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang safety inspector, yaitu:

1.            Technical expertise, yaitu mampu menunjukkan pemahaman yang baik atas wilayah teknis sesuai dengan penugasan, spt operator penerbangan, operator bandara, ATO, MRO, ANSP  dll. Misalnya, mereka harus mampu secara mudah berdiskusi aspek teknis dengan personil kunci di organisasi yang sedang diawasi.

2.         Role awareness, yaitu memahami secara baik segala bentuk implikasi atas peran yang diemban. Misalnya memberikan sangsi apabila memang diperlukan.

3.         Performance-based orientation, memiliki keahlian menggunakan pendekatan yang tepat dalam melakukan peran oversight sesuai dengan business model, risk profile dan organizational setup.

4.         Dealing with complexity, yaitu mampu untuk memerankan peran safety inspector dalam organisasi dan system yang kompleks, lingkungan yang interdependen dan bergerak secara dinamis.

5.         Self-development, yaitu dapat melibatkan diri dalam life-long learning process dan mampu bergerak secara tepat dan fleksibel pada lingkungan yang berubah secara dinamis.

6.         Interpersonal skills, yaitu memiliki kekuatan dalam mengembangkan dan mempertahankan hubungan yang tepat dengan stakeholder-nya sesuai dengan tujuan penugasan. Misalnya dapat merespon secara bijak dan tepat ketika ada pihak yang memperlihatkan perasaan emosi saat menjalankan tugas pengawasan.

7.         Communication, yaitu secara baik mampu mengeskpresikan pemikiran dan informasi dalam tulisan dan secara verbal. Misalnya mampu mendengar dengan penuh perhatian, mengklarifikasi dengan pertanyaan dan mengenali secara baik common ground.

8.         Analytical thinking, yaitu mempunyai kemampuan menjalankan proses mengumpulkan informasi yang relevan serta mengenali isu pokok nya.

9.         Oversight and project management, yaitu memiliki keahlian dalam memanfaatkan seluruh sumber daya dalam rangka kesuksesan pelaksanaan tugas.

10.      Decision-making and responsibility, yaitu memiliki kemampuan yang teruji dalam pembuatan keputusan berdasarkan seluruh fakta, bukti dan informasi yang ada. Disamping itu, profesi ini memerlukan kekuatan common sense, expert judgment dan juga gut feeling. Diantara nya adalah kemampuan untuk dapat mengambil keputusan dalam kondisi under pressure.

11.      Teamwork, collaboration and partnership, yaitu suatu keterampilan yang kuat dalam bekerjasama dengan banyak pihak, baik internal maupun eksternal. Misalnya, kemampuan mengeskpresikan fikiran positif dan persuasive dan tetap terbuka dengan pemikiran pihak lain.

Dalam publikasi berjudul:” Training Program Outline for Inspector SMS Competency”, SM ICG mengindentifikasi 16 core subjects yang perlu dikuasai oleh seroang safety inspector, seperti dalam table berikut:

 

1)  Management systems;

2)  Regulatory framework and intent;

3)  Oversight techniques;

4)  Organizational safety performance;

5)  Organizational safety culture;

6)     Confidentiality of sensitive information;

7)     Communication skills;

8)     System interactions and interfaces;

9)     Analytical skills;

10)  Decision-making skills;

11)    Open-mindedness;

12)    Assertiveness;

13)    Teamwork;

14)    Judgment;

15)    Human and organizational factors;

16)    Safety-critical implications.

Dokumen SM ICG ini menjelaskan secara rinci masing-masing core subject kompetensi diatas, diantaranya menjelaskan bahwa: Seorang safety inspector wajib memiliki pemahaman yang baik atas sistem manajemen. Wilayah kompetensi ini mewajibkan ybs perlu paham peran manajer yang bertanggung jawab utk setiap urusan, juga memahami komponen dasar suatu sistem manajemen, memahami kebutuhan akan sistem manajemen, mengetahui apakah sistem manajemen sesuai untuk jenis, ukuran dan lingkungan operasi organisasi, juga memahami prinsip pokok manajemen perubahan, termasuk memahami praktik terbaik untuk perbaikan berkelanjutan.

Demikian juga safety inspector perlu memiliki pemahaman yang baik atas kerangka regulasi. Ini mencakup peraturan dan ketentuan internasional dan nasional yang berlaku, latar belakang dikeluarkannya regulasi tertentu diterbitkan, demikian juga ia harus mengerti batas-batas kepatuhan atas regulasi serta kebijakan sangsi atas regulasi, termasuk batas kewajaran sebuah organisasi menerapkan suatu regulasi, dan ia wajib membantu dalam menterjemahkan persyaratan suatu regulasi kepada pihak yang diawasi. Untuk mengetahui uraian lebih lanjut tentang masing-masing core subject diatas, silahkan lihat link http://www.skybrary.aero/bookshelf/books/2554.pdf.

           Gambar Ilustrasi Kompetensi Safety inspector Dalam Ragam Domain Teknis

Sebagai penutup, yuk kita simak catatan bagaimana SM ICG memandang State Safety Program (SSP) dan penerapan Safety Management System (SMS) oleh negara anggota ICAO.

The implementation of SSP and SMS is not simply a regulatory drafting exercise; it will most likely involve major changes in the way you, the authority, conduct and organize your business…. Accordingly, prior to implementation, States must have basic capabilities, which include the ability and capacity to maintain a qualified and adequate workforce.

Jadi, diantara kata kunci keberhasilan aktifitas pemerintah menjalankan State Safety Program ada pada individu yang menjalankan peran Safety rule-making, Safety policy development, dan Safety oversight. Kesemua itu adalah aktifitas yang diperankan Safety inspector.

Semoga bermanfaat dan selamat beraktifitas!!!

Note :

* SM ICG Safety Management International Collaboration Group saat ini berjumlah 18 regulator, didirikan oleh United States Federal Aviation Administration (FAA), European Aviation Safety Agency (EASA) dan Canada Transport Civil Aviation dan merupakan usaha bersama antara banyak otoritas regulator untuk mempromosikan pemahaman umum tentang prinsip dan persyaratan Sistem Manajemen Keselamatan dari State Safety Program (SSP), serta memfasilitasi pelaksanaannya di seluruh komunitas penerbangan internasional.

**EASA : European Aviation Safety Agency adalah agen Uni Eropa (UE) dengan tugas pengatur dan eksekutif di bidang keselamatan penerbangan sipil. Berbasis di Cologne, Jerman, EASA didirikan pada tanggal 15 Juli 2002 dan mencapai fungsi penuh di tahun 2008, mengambil alih fungsi Joint Aviation Authorities (JAA).

comments powered by Disqus

Articles

Jaga Keselamatan Penerbangan dan Lestarikan Budaya, AirNav Gelar Java Balloon Festival Pekalongan 2018
29 Jun 2018

Jaga Keselamatan Penerbangan dan Lestarikan Budaya...

PEKALONGAN-- Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia menggelar festival balon udara tambat di Pekalongan, Jawa Tengah, bertajuk JAVA BALOON FESTIVAL PEKALONGAN 2018, pada Kamis-Jumat (21-22/6/2018).
Read More

Lestarikan Budaya dan Menjaga Keselamatan Penerbangan, AirNav Gelar Festival Balon Udara 2018
29 Jun 2018

Lestarikan Budaya dan Menjaga Keselamatan Penerban...

WONOSOBO - Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia menggelar festival balon udara tambat 2018 di Wonosobo, Jawa Tengah, bertajuk JAVA BALLOON FESTIVAL WONOSOBO 2018.
Read More

Pengumuman Penetapan Hasil Rekrutmen Internal Perum LPPNPI Tahun 2018
07 Jun 2018

Pengumuman Penetapan Hasil Rekrutmen Internal Peru...

Pengumuman Penetapan Hasil Rekrutmen Internal Perum LPPNPI Tahun 2018
Read More

News

Optimalisasi Ruang Udara, AirNav Indonesia dan Kementerian Perhubungan Selenggarakan CMAC/FUA Workshop
31 Mar 2016

Optimalisasi Ruang Udara, AirNav Indonesia dan Kem...

Jakarta, 31 Maret 2016 – Kerjasama sipil-milter merupakan hal penting untuk mengoptimalkan penggunaan ruang udara Republik Indonesia dalam mendukung peningkatan konektivitas di negeri yang memiliki lebih dari 17.000 pulau ini.
Read More

Donor Darah Dan Peluncuran Mobil Perpustakaan Keliling Airnav Peduli
11 Feb 2016

Donor Darah Dan Peluncuran Mobil Perpustakaan Keli...

TANGERANG (2/10) - Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia menggelar Aksi Donor Darah dan Peluncuran Mobil Perpustakaan Keliling ”AirNav Peduli”, Rabu, 10 Februari 2016
Read More

AirNav Indonesia Bersama TNI AU Resmikan Tower Baru  di Bandara Husein Sastranegara
10 Feb 2016

AirNav Indonesia Bersama TNI AU Resmikan Tower Bar...

BANDUNG - Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Pen-erbangan Indonesia (LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia bersinergi dengan TNI Angkatan Udara meresmikan pengoperasian tower baru, demi memaksimalkan pelayanan pengaturan lalu lintas penerbangan berniaga dan penerbangan militer di Bandara Husein Sastrangera, Bandung pada hari Rabu 10 Februari 2016
Read More

9 Pejabat MATSC Menandatangani Pakta Integritas, Siap Meningkatkan Pelayanan Navigasi di Indonesia
26 Feb 2016

9 Pejabat MATSC Menandatangani Pakta Integritas, S...

Makassar – Sebanyak 9 Manager dan Junior Manager di AirNav Indonesia Cabang MATSC menandatangani pakta integritas. Penandatanganan para managerial dilakukan di ruangan Platinum, Kantor Cabang MATSC, Jl. Bandara Baru, Selasa (16/2)
Read More